yaalatif.id

Kenapa Mencium Hajar Aswad Begitu Dikejar?

Siapa pun yang pernah menyaksikan momen tawaf di Masjidil Haram, pasti pernah melihat pemandangan yang sama: ribuan jamaah berdesak-desakan, berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyentuh atau mencium sebuah batu hitam kecil yang tertanam di sudut Ka’bah. Batu itu adalah Hajar Aswad.

Mengapa begitu banyak orang rela berdesakan demi menyentuhnya? Jawabannya ada pada sejarah dan keutamaannya yang disebutkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Apa Itu Hajar Aswad?

Hajar Aswad secara harfiah berarti batu hitam. Batu ini terletak di sudut tenggara Ka’bah, pada ketinggian sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Diameternya sekitar 30 sentimeter, dan saat ini terbungkus dalam bingkai perak.

Hajar Aswad menjadi penanda awal dan akhir setiap putaran tawaf. Setiap jamaah yang memulai tawaf diarahkan untuk menghadap ke Hajar Aswad, memberikan isyarat atau menyentuhnya jika memungkinkan, kemudian memulai putaran dengan Ka’bah di sisi kirinya.

Sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad memiliki sejarah yang sangat panjang dalam Islam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

“Hajar Aswad turun dari surga, berwarna lebih putih dari susu, lalu berubah menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.” (HR. Tirmidzi no. 877, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Batu ini sampai ke bumi pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ketika keduanya membangun Ka’bah atas perintah Allah SWT. Dikisahkan bahwa ketika bangunan Ka’bah hampir selesai, terdapat satu bagian yang kosong. Nabi Ibrahim meminta Nabi Ismail untuk mencari batu yang sesuai. Namun sebelum Nabi Ismail kembali, Malaikat Jibril sudah hadir dan menyerahkan Hajar Aswad kepada Nabi Ibrahim langsung dari langit. Ketika Nabi Ismail tiba dan bertanya dari mana batu itu berasal, Nabi Ibrahim menjawab bahwa yang membawanya adalah Malaikat Jibril.

Hajar Aswad kemudian ditempatkan di sudut Ka’bah oleh Nabi Ibrahim, dan sejak saat itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan Ka’bah hingga hari ini.

Dalam sejarahnya, Hajar Aswad juga pernah dicuri oleh kelompok Qaramithah pada tahun 317 H dan baru dikembalikan setelah 22 tahun, setelah ditebus dengan harga yang sangat besar.

Peristiwa peletakan kembali oleh Rasulullah ﷺ

Sebelum diangkat menjadi Nabi, Rasulullah ﷺ pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah terkait Hajar Aswad. Ketika Ka’bah direnovasi akibat banjir saat beliau berusia 35 tahun, terjadi perselisihan antar kabilah Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya. Hampir saja terjadi pertumpahan darah. Rasulullah ﷺ kemudian meminta selembar kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, dan meminta setiap pemimpin kabilah memegang sisi-sisi kain itu bersama-sama, lalu membawanya ke Ka’bah. Beliau sendirilah yang kemudian meletakkan batu itu ke posisinya. Perselisihan pun selesai dengan damai.

Kenapa Rasulullah Menciumnya?

Pertanyaan ini pernah terlintas juga di benak Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat berhati-hati dalam urusan ibadah dan tauhid. Ketika mencium Hajar Aswad, beliau berkata dengan lantang:

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1270)

Perkataan Umar ini menjadi pelajaran yang sangat penting. Mencium Hajar Aswad bukan karena meyakini bahwa batu itu bisa memberikan manfaat atau mudarat. Itu adalah urusan Allah semata. Alasan seseorang mencium Hajar Aswad hanya satu: karena Rasulullah ﷺ melakukannya, dan kita mengikuti sunnah beliau.

Inilah prinsip dasar dalam ibadah: tawqifiyah, yaitu berdasarkan dalil dan tuntunan, bukan karena rekaan atau kebiasaan semata.

Keutamaan Menyentuh dan Mencium Hajar Aswad

Rasulullah ﷺ menyebutkan beberapa keutamaan yang berkaitan dengan Hajar Aswad.

Pertama, dapat menghapus dosa.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa. (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)

Kedua, akan menjadi saksi di hari kiamat.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ يَشْهَدُ عَلَى مَنِ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ

“Demi Allah, Allah akan mengutus batu ini pada hari kiamat. Ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara, dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya.” (HR. Tirmidzi no. 961, dinilai hasan shahih)

Hajar Aswad akan menjadi saksi kebaikan bagi siapa saja yang menyentuh atau menciumnya dengan niat yang benar, yaitu mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Bagaimana Jika Tidak Bisa Menciumnya?

Kondisi di sekitar Hajar Aswad hampir selalu padat. Para ulama menjelaskan beberapa cara yang bisa dilakukan sesuai kemampuan:

Jika bisa langsung mencium, lakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ, yaitu meletakkan bibir pada batu tersebut.

Jika tidak bisa mencium tapi bisa menyentuh, cukup sentuh dengan tangan kemudian cium tangan tersebut.

Jika tidak bisa menyentuh sama sekali, cukup dengan mengangkat tangan kanan ke arah Hajar Aswad sebagai isyarat, tanpa perlu berdesak-desakan yang bisa menyakiti jamaah lain. Itupun sudah dianggap sah.

Yang penting untuk diingat: berdesak-desakan hingga menyakiti sesama jamaah tidak dianjurkan. Jika kondisi tidak memungkinkan, cukup isyarat dari jauh dan niatkan dengan tulus.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk hadir di sana, menjadi bagian dari tamu-tamu-Nya dan mendapatkan kesempatan untuk mencium batu dari surga yaitu Hajar Aswad, Aamiin.

Share:

Read

Related Posts

Scroll to Top