yaalatif.id

Keutamaan Multazam, Tempat Doa yang Dijanjikan Dikabulkan

Setiap jamaah yang selesai melakukan tawaf, hampir semuanya bergerak menuju satu titik yang sama di dinding Ka’bah. Mereka menempelkan dada, pipi, dan kedua telapak tangan ke sana, lalu berdoa dengan sepenuh hati. Tempat itu adalah Multazam.

Banyak yang meneteskan air mata di sini. Bukan karena kelelahan, tapi karena merasakan betapa dekatnya diri mereka dengan Allah di momen itu.

Apa Itu Multazam?

Multazam adalah bagian dari dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dengan jarak sekitar 2 meter. Posisinya berada di sisi tenggara Ka’bah, tepat setelah Hajar Aswad jika dilihat dari arah tawaf.

Nama Multazam berasal dari kata Arab iltazama yang berarti melekat atau menempelkan diri. Penamaan ini berkaitan dengan cara berdoa di tempat ini, yaitu dengan menempelkan seluruh bagian tubuh ke dinding Ka’bah sebagai bentuk penghambaan dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Ada pula yang memaknai Multazam sebagai tempat memeluk, karena berdasarkan riwayat, Rasulullah ﷺ pernah memeluk Ka’bah di tempat ini.

Dalil Keutamaan Multazam

Keutamaan Multazam disebutkan dalam beberapa riwayat dari para sahabat dan ulama salaf.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُلْتَزَمُ مَوْضِعٌ يُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ مَا دَعَا اللهَ فِيْهِ عَبْدٌ إِلَّا اسْتَجَابَهُ

“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah di sana, melainkan Allah pasti mengabulkannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau juga berkata:

“Tempat di antara Rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah dinamakan Multazam. Tidaklah seseorang menempelkan diri di antara keduanya dan memohon kepada Allah sesuatu pun, melainkan Allah akan memberinya.” (HR. Al-Baihaqi)

Ibnu Abbas sendiri kemudian berkata, “Demi Allah, sekali-kali aku tidak pernah berdoa di Multazam melainkan Allah mengabulkan doaku.”

Rasulullah dan Para Sahabat di Multazam

Cara Rasulullah ﷺ berada di Multazam diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dalam sebuah riwayat yang dicatat dalam Sunan Abu Dawud, dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar setelah selesai tawaf mendatangi Multazam, lalu merapatkan dada, muka, kedua siku, dan kedua telapak tangannya ke dinding Ka’bah. Kemudian beliau berkata:

“Seperti inilah aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya.” (Sunan Abu Dawud, Bab Multazam)

Para sahabat dan ulama salaf juga memiliki kebiasaan yang sama. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, setiap kali melihat Multazam, langsung menempelkan tubuhnya ke sana dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Biarkan aku di sini agar aku bisa mengakui dosa-dosaku di hadapan Allah.”

Mujahid rahimahullah juga menyampaikan bahwa para sahabat dahulu secara konsisten berdiam diri dan berdoa di area antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Hukum Berdoa di Multazam

Para ulama sepakat bahwa mendatangi Multazam dan berdoa di sana adalah sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa seseorang yang ingin mendatangi Multazam, menempelkan dada, wajah, tangan, dan lengannya ke sana, kemudian berdoa dan meminta segala kebutuhannya kepada Allah, maka itu diperbolehkan dan dianjurkan. Beliau juga menyebutkan bahwa para sahabat dahulu melakukan hal ini ketika memasuki Makkah.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama sepakat adanya toleransi dalam mengamalkan riwayat-riwayat tentang keutamaan Multazam, karena hal ini termasuk dalam kategori keutamaan amal, bukan perkara hukum syariat utama.

Tata Cara Berdoa di Multazam

Berdasarkan riwayat dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat, berikut tata cara yang dianjurkan saat berada di Multazam:

Pertama, datang dalam keadaan berwudhu. Meskipun tidak wajib, berwudhu sebelum mendatangi Multazam adalah bentuk kesungguhan dalam beribadah.

Kedua, tempelkan dada, pipi, kedua telapak tangan, dan kedua siku ke dinding Multazam. Inilah cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Ketiga, berdoa dengan apa saja yang dikehendaki, untuk kebaikan dunia maupun akhirat. Tidak ada doa khusus yang ditetapkan dari Nabi ﷺ untuk tempat ini, sehingga setiap jamaah bebas memanjatkan doa sesuai hajatnya.

Keempat, hadirkan hati sepenuhnya. Doa yang dipanjatkan dengan hati yang lalai tidak akan mendapatkan keutamaan yang sama.

Kelima, jaga adab terhadap sesama jamaah. Kondisi di sekitar Multazam sering kali padat. Jika tidak bisa menempel langsung, cukup berdiri di dekatnya dan berdoa dengan menghadap ke arah Multazam tanpa menyakiti orang lain.

Doa yang Dianjurkan di Multazam

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan doa yang dianjurkan dibaca saat berada di Multazam:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَكَ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَكَ، أَحْمَدُكَ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، اللهُمَّ أَعِذْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَأَعِذْنِيْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَقَنِّعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، اللهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ وَأَلْزِمْنِيْ سَبِيْلَ الإِسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu, pujian yang sesuai dengan nikmat-Mu dan sepadan dengan tambahan karunia-Mu. Aku memuji-Mu dengan segala pujian yang aku ketahui maupun yang belum aku ketahui. Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk, jauhkan aku dari segala keburukan, jadikanlah aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan, dan berkahilah aku di dalamnya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tamu-Mu yang paling mulia di sisi-Mu, dan tetapkanlah aku di atas jalan istiqamah hingga aku berjumpa dengan-Mu, wahai Rabb semesta alam.”

Di samping doa di atas, setiap jamaah juga dianjurkan untuk memanjatkan hajat-hajatnya sendiri, baik yang berkaitan dengan akhirat maupun dunia, dengan bahasa apa pun yang dipahami. 

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk hadir di Multazam, bersimpuh di depan Ka’bah, dan membawa pulang doa-doa yang terkabul. Aamiin.

Share:

Read

Related Posts

Scroll to Top