yaalatif.id
Midfa Al-Iftar

Bagi masyarakat Mesir, suara dentuman meriam bukan berarti peperangan, melainkan momen yang paling dinantikan: waktu berbuka puasa. Tradisi ini dikenal dengan nama Midfa Al-Iftar. Meskipun kini kita memiliki jam tangan pintar dan aplikasi adzan di ponsel, bagi warga Cairo, Ramadan belum terasa lengkap tanpa suara “guntur” dari benteng kuno Saladin.

Tahukah Anda bahwa tradisi meriam buka puasa yang kini menyebar ke berbagai negara Muslim ternyata lahir secara tidak sengaja di Cairo? Bersama Yaa Latif Tour & Travel, mari kita telusuri sejarah unik di balik meriam pertama di dunia ini.

Awal Mula: Sebuah “Ketidaksengajaan” yang Berkah

Ada beberapa versi sejarah mengenai asal-usul Midfa Al-Iftar, namun versi yang paling populer membawa kita kembali ke tahun 865 Hijriah (abad ke-15 Masehi) pada masa pemerintahan Sultan Mamluk, Khosh Qadam.

Dikisahkan bahwa sang Sultan menerima sebuah meriam baru sebagai hadiah. Tepat saat matahari terbenam di hari pertama Ramadan, para prajurit menguji coba meriam tersebut untuk memastikan kondisinya baik. Dentuman kerasnya menggema ke seluruh pelosok Cairo.

Penduduk kota yang saat itu sedang menunggu waktu berbuka mengira bahwa suara meriam tersebut adalah cara baru Sultan untuk memberitahu bahwa waktu puasa telah usai. Keesokan harinya, masyarakat berbondong-bondong menuju istana untuk berterima kasih kepada Sultan atas inovasi yang sangat membantu tersebut. Melihat antusiasme warga, Sultan Khosh Qadam akhirnya memutuskan untuk menjadikan dentuman meriam sebagai tradisi tetap setiap hari di bulan Ramadan.

Legenda “Hajjah Fatima”

Versi sejarah lain yang juga populer di Mesir berkaitan dengan Khedive Ismail di abad ke-19. Konon, para prajurit sedang membersihkan meriam besar di Benteng Saladin dan tanpa sengaja meriam tersebut meledak saat waktu Maghrib tiba.

Putri sang Khedive yang bernama Fatima merasa bahwa ide ini sangat luar biasa untuk membantu masyarakat mengetahui waktu berbuka. Ia kemudian mengeluarkan dekrit agar meriam tersebut ditembakkan setiap hari saat waktu berbuka, sahur, dan hari-hari besar Islam. Itulah sebabnya, meriam utama di Cairo sering dijuluki sebagai “Meriam Fatima”.

Citadel of Saladin: Rumah Bagi Sang Legenda

Hingga hari ini, pusat dari tradisi ini adalah Benteng Saladin (Citadel of Saladin) di Cairo. Meriam yang digunakan bukanlah meriam sembarangan, melainkan benda bersejarah yang dirawat dengan sangat baik.

Bayangkan Anda berdiri di ketinggian benteng, melihat pemandangan kota Cairo yang luas dengan ribuan menara masjidnya, lalu mendengar suara dentuman yang telah menggema selama ratusan tahun. Itu adalah getaran sejarah yang akan membuat bulu kuduk Anda berdiri karena haru.

Mengapa Anda Harus Merasakan Ramadan di Mesir?

Mengunjungi Mesir bersama Yaa Latif Tour & Travel saat bulan Ramadan memberikan Anda kesempatan untuk:

  1. Menyaksikan Tradisi Midfa Al-Iftar: Mendengar langsung dentuman sejarah yang menyatukan jutaan orang dalam satu momen berbuka.

  2. Ibadah di Masjid-Masjid Bersejarah: Merasakan shalat di Masjid Muhammad Ali yang berada di dalam kompleks benteng tempat meriam tersebut berada.

  3. Atmosfer Kekeluargaan: Melihat bagaimana warga Cairo saling berbagi makanan saat suara meriam terdengar—sebuah pemandangan kedermawanan yang luar biasa.

Penutup: Suara yang Menyatukan Hati

Midfa Al-Iftar adalah bukti betapa kayanya tradisi Islam di Mesir. Suara dentumannya bukan hanya pengingat waktu makan, tapi simbol persatuan dan kegembiraan umat dalam menjalankan perintah Tuhan.

Ingin mendengar langsung suara sejarah ini di bawah langit Cairo? Jadikan Ramadan 2026 Anda berbeda dengan bergabung dalam paket Umroh Plus Mesir Ramadan bersama Yaa Latif Tour & Travel. Kami hadir untuk memastikan perjalanan spiritual Anda penuh dengan kenyamanan dan hikmah.

[Konsultasikan Rencana Keberangkatan Anda – Klik Di Sini]

Scroll to Top