yaalatif.id

Padang Arafah: Lokasi, Sejarah, dan Dalilnya dalam Al-Qur’an dan Hadits

Padang Arafah adalah hamparan tanah yang luas dan datar, terletak sekitar 25 kilometer di sebelah tenggara Kota Makkah. Setiap tanggal 9 Dzulhijjah, jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di tempat yang sama, mengenakan pakaian ihram, untuk melaksanakan wukuf. Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang tidak bisa ditinggalkan. Tanpa hadir di Arafah pada waktu yang ditentukan, ibadah haji dinyatakan tidak sah.

Asal Nama Arafah

Nama “Arafah” berasal dari kata Arab ‘arafa yang berarti mengenal atau mengetahui. Para ulama menyebutkan beberapa riwayat mengenai asal usul penamaan ini.

Riwayat yang paling banyak dikutip dalam literatur klasik menyebutkan bahwa di tempat inilah Nabi Adam AS dan Hawa dipertemukan kembali setelah keduanya diturunkan ke bumi dari surga dan terpisah dalam waktu yang lama. Ketika akhirnya bertemu, mereka saling mengenali satu sama lain. Dari peristiwa itulah tempat ini disebut Arafah.

Selain itu, sebagian ulama juga menyebutkan bahwa nama Arafah berkaitan dengan Nabi Ibrahim AS. Ketika Malaikat Jibril mengajarkan tata cara manasik haji kepadanya, Nabi Ibrahim menyahut setiap penjelasan dengan ‘araftu yang berarti “aku tahu.” Maka tempat tersebut pun dikenal dengan nama Arafah.

Ada pula yang menjelaskan bahwa nama ini mencerminkan makna pengakuan, karena di tempat inilah manusia mengakui dosa-dosanya dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Arafah dalam Al-Qur’an dan Hadits

Allah SWT menyebut Arafah secara langsung dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 198:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Ayat ini secara langsung menyebut Arafah sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji, sekaligus memerintahkan dzikir setelah bertolak dari sana menuju Muzdalifah.

Dalam hadits, Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukan Arafah dalam ibadah haji dengan sabdanya:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah (wukuf di) Arafah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Shahih)

Hadits ini menjadi landasan utama bahwa wukuf di Arafah adalah inti dari seluruh rangkaian ibadah haji. Seluruh mazhab sepakat bahwa tidak menghadiri Arafah pada waktu yang ditentukan menjadikan ibadah haji tidak sah.

Arafah di Masa Rasulullah ﷺ

Pada masa jahiliah, suku Quraisy memiliki kebiasaan yang berbeda dari suku-suku Arab lainnya. Mereka merasa lebih tinggi derajatnya sehingga tidak mau wukuf bersama orang-orang di Arafah, dan memilih untuk berdiam di Muzdalifah saja. Maka turunlah ayat Al-Baqarah 198 yang memerintahkan agar seluruh jamaah haji bersama-sama wukuf di Arafah, tanpa pengecualian.

Ketika Islam datang, Rasulullah ﷺ mengembalikan Arafah kepada fungsinya yang sesungguhnya sebagai tempat ibadah, perenungan, dan penghambaan kepada Allah.

Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ menunaikan haji untuk terakhir kalinya yang dikenal sebagai Haji Wada’. Beliau berwukuf di Arafah bersama lebih dari seratus ribu sahabat. Di tempat inilah beliau menyampaikan Khutbah Wada’, khutbah perpisahan yang berisi pesan-pesan penting yang hingga hari ini menjadi bagian penting dalam sejarah Islam.

Di antara isi khutbah tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian adalah satu. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Di Arafah pula, pada hari tersebut, turun wahyu yang menjadi salah satu ayat paling bersejarah dalam Al-Qur’an:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Keutamaan Hari Arafah

Tanggal 9 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Arafah, memiliki sejumlah keutamaan yang disebutkan dalam hadits.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa hari Arafah, aku mengharapkan dari Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (HR. Muslim no. 1162)

Puasa ini dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji. Adapun bagi jamaah yang sedang wukuf di Arafah, para ulama menganjurkan agar tidak berpuasa agar dapat berkonsentrasi penuh dalam berdoa.

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bahwa hari Arafah adalah salah satu hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka, dan doa yang dipanjatkan pada hari tersebut termasuk doa yang paling utama.

Waktu dan Tata Cara Wukuf

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, dimulai sejak matahari tergelincir di waktu Dzuhur hingga terbit fajar pada 10 Dzulhijjah. Jamaah disunnahkan untuk melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar secara jama’ taqdim dan qashar, kemudian memperbanyak doa, dzikir, dan istighfar hingga matahari terbenam.

Tidak ada doa khusus yang diwajibkan saat wukuf. Jamaah dapat memanjatkan doa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat. Namun di antara doa yang paling dianjurkan pada hari Arafah adalah:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seluruh area Padang Arafah adalah tempat wukuf yang sah, kecuali Lembah Uranah yang berada di perbatasannya.

Padang Arafah Hari Ini

Kini Padang Arafah sudah jauh berbeda dari kondisi aslinya yang tandus dan gersang. Kawasan ini telah berkembang dengan berbagai fasilitas untuk menampung jutaan jamaah. Ribuan tenda berpendingin didirikan setiap musim haji, jalan-jalan diperlebar, dan sistem transportasi diatur agar pergerakan jutaan orang dapat berlangsung dengan tertib.

Di tengah kemajuan fasilitas tersebut, esensi wukuf tetap tidak berubah. Jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang, berdiri bersama dalam satu pakaian ihram, menghadap kepada Allah, memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Bagi jamaah Yaa Latif program Umrah Plus Mesir, salah satu destinasi yang akan dikunjungi dalam program adalah Padang Arafah. Kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah bersejarah ini, tempat di mana Islam disempurnakan dan doa-doa terbaik dipanjatkan, tentu menjadi pengalaman yang tidak ternilai dalam perjalanan ibadah.

Semoga Allah memudahkan langkah kita semua untuk hadir di sana dan menjadi bagian dari jutaan tamu-Nya yang berdiri di Padang Arafah. Aamiin.

Foto Group Jamaah Yaa Latif di depan Padang Arafah

Share:

Read

Related Posts

Scroll to Top