yaalatif.id
Mengenal Mesaharati

Di tengah kecanggihan teknologi alarm ponsel, ada sebuah suara yang tetap setia membelah keheningan malam di pemukiman padat penduduk Mesir saat bulan Ramadan. Suara itu bukan dari pengeras suara masjid, melainkan dari ketukan genderang kecil yang diiringi lantunan syair puji-pujian. Itulah Mesaharati, sosok penjaga tradisi sahur yang telah ada selama berabad-abad.

Bagi jamaah Yaa Latif Tour & Travel yang berkesempatan mengunjungi Mesir di bulan suci, bertemu dengan Mesaharati adalah sebuah perjalanan melintasi waktu. Mari kita mengenal lebih dekat sosok yang menjadi “alarm spiritual” di Negeri Seribu Menara ini.

Sejarah yang Berakar dari Zaman Para Sahabat

Tradisi membangunkan orang untuk sahur sebenarnya berakar sejak zaman Rasulullah SAW, di mana Bilal bin Rabah RA mengumandangkan adzan pertama untuk membangunkan umat. Namun, profesi Mesaharati secara spesifik berkembang pesat di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah.

Dahulu, gubernur Mesir sendiri, Ishaq bin Uqba, adalah orang pertama yang berkeliling jalanan Fustat (Cairo lama) untuk membangunkan warga. Seiring berjalannya waktu, tugas ini dijalankan oleh orang-orang khusus yang memiliki suara merdu dan memahami seni syair Islam.

Baza: Irama yang Menggerakkan Hati

Ciri khas seorang Mesaharati di Mesir adalah Baza, yaitu sebuah genderang kecil berkulit domba yang dipukul dengan potongan kulit atau kayu. Setiap pukulan memiliki irama yang khas, diselingi dengan panggilan yang puitis.

“Ya naayem wahid al-daayem… Is’ha ya naayem wahid al-razzaq” (Wahai engkau yang terlelap, tauhidkanlah Sang Kekal… Bangunlah wahai yang terlelap, tauhidkanlah Sang Pemberi Rezeki).

Yang paling menyentuh hati adalah ketika Mesaharati menyebutkan nama anak-anak atau kepala keluarga di setiap rumah yang ia lewati. Di gang-gang sempit Cairo, Mesaharati biasanya sudah menghafal siapa saja penghuni rumah di jalurnya, menciptakan ikatan kekeluargaan yang sangat kental.

Mengapa Mesaharati Tetap Dicintai?

Meski kini zaman telah modern, masyarakat Mesir—terutama di kawasan seperti Sayyida Zeinab atau Al-Hussein—tetap menantikan kehadiran Mesaharati. Bagi mereka, Mesaharati adalah:

  • Penjaga Identitas: Simbol bahwa Ramadan telah tiba dengan segala kemuliaannya.

  • Penyebar Kegembiraan: Anak-anak seringkali menunggu di jendela atau balkon untuk menyapa Mesaharati yang lewat.

  • Wujud Pengabdian: Banyak Mesaharati yang menjalankan tugas ini secara turun-temurun sebagai bentuk ibadah, tanpa mengharapkan bayaran tetap, melainkan hanya mengharap keberkahan.

Rasakan Kehangatan Sahur di Mesir bersama Yaa Latif

Mengikuti paket Umroh Plus Mesir Ramadan memberikan Anda kesempatan untuk merasakan langsung atmosfer ini. Bersama Yaa Latif Tour & Travel, Anda tidak hanya menginap di hotel, tetapi kami akan membawa Anda merasakan pengalaman autentik:

  1. Jalan-Jalan Malam di Cairo Lama: Setelah Taraweeh, kita akan menyusuri kawasan Muizz Street untuk melihat denyut kehidupan malam yang penuh warna.

  2. Pengalaman Sahur Autentik: Merasakan suasana sahur di mana suara genderang Mesaharati terdengar sayup-sayup dari kejauhan, memberikan sensasi spiritual yang sangat dalam.

  3. Pelajaran Sejarah Islam: Tim kami akan menceritakan kisah-kisah di balik tradisi Mesir agar setiap momen perjalanan Anda penuh dengan pengetahuan.

Kesimpulan: Suara yang Memanggil Jiwa

Mesaharati adalah pengingat bahwa di balik megahnya peradaban, nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam beribadah tetaplah yang utama. Suara genderangnya adalah panggilan bagi jiwa untuk bangun dan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta di waktu paling mustajab.

Wujudkan kerinduan Anda untuk merasakan Ramadan di Mesir tahun depan. Konsultasikan rencana perjalanan Anda bersama spesialis tour Mesir & Aqsa.

[Hubungi Admin Yaa Latif – Klik di Sini]

Scroll to Top