yaalatif.id
Karakter mulia (Akhlak) Rasulullah sebelum masa kenabian.

Saat jemaah Yaa Latif Tour & Travel melakukan ibadah Tawaf di pelataran Masjidil Haram, mata kita pasti akan tertuju pada sudut tenggara Ka’bah, tempat batu hitam legendaris, Hajar Aswad, bertahta. Di sudut inilah jutaan umat Muslim dari seluruh dunia berdesakan, menangis, dan melambaikan tangan demi bisa memberikan salam (istilam) kepada batu yang diturunkan dari surga tersebut.

Namun, di balik dinding Ka’bah yang agung tersebut, tersimpan sebuah lembaran sejarah yang sangat menyentuh tentang kemuliaan akhlak, keadilan, dan kecerdasan luar biasa dari Rasulullah SAW jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Kisah ini mengajarkan kita tentang bagaimana perdamaian dapat diwujudkan melalui kebijaksanaan spiritual yang inklusif.

1. Bencana Banjir Bandang dan Pemugaran Ka’bah

Peristiwa ini terjadi ketika Muhammad bin Abdullah berusia sekitar $35 \text{ tahun}$—sekitar lima tahun sebelum wahyu pertama turun di Gua Hira. Pada masa itu, kota Makkah dilanda banjir bandang yang sangat dahsyat dari daerah perbukitan. Air bah tersebut menerobos masuk ke dalam Masjidil Haram dan meretakkan dinding-dinding Ka’bah yang kala itu tidak memiliki atap pelindung.

Melihat kondisi Ka’bah yang rapuh dan rawan runtuh, suku-suku di bawah naungan kabilah Quraisy bersepakat untuk meruntuhkannya secara total dan membangunnya kembali dengan fondasi yang lebih kokoh. Pemugaran ini berjalan dengan sangat gotong royong. Setiap kabilah (suku) mendapatkan pembagian tugas untuk membangun sisi-sisi dinding tertentu.

2. Ketegangan yang Nyaris Menumpahkan Darah

Pembangunan berjalan dengan lancar hingga struktur dinding Ka’bah kembali meninggi dan tiba saatnya untuk meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya di sudut tenggara.

Di sinilah ujian ego sektoral dimulai. Meletakkan batu mulia tersebut adalah sebuah kehormatan dan gengsi sosial tertinggi yang sangat diperebutkan. Setiap kepala suku Quraisy merasa bahwa suku merekalah yang paling berhak dan paling mulia untuk memegang dan mengangkat Hajar Aswad.

Ketegangan meningkat dengan sangat cepat. Diskusi berubah menjadi perdebatan sengit yang beralih menjadi perselisihan selama $4$ hingga $5$ hari tanpa menemukan jalan keluar. Bahkan, beberapa suku telah mempersiapkan diri untuk berperang. Mereka mencelupkan tangan mereka ke dalam mangkok berisi darah (sebuah sumpah adat kuno yang disebut Dam al-La’aqah) sebagai tanda bahwa mereka siap bertempur sampai mati demi memperebutkan kehormatan tersebut.

3. “Al-Amin” Datang Membawa Kedamaian

Di tengah kebuntuan yang mencekam tersebut, seorang sesepuh Quraisy yang paling dihormati bernama Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi memberikan sebuah usulan yang cerdas. Beliau menyarankan agar keputusan ini diserahkan kepada orang pertama yang melangkah masuk ke dalam area Masjidil Haram melalui pintu masjid (Bab As-Safa atau Bab Bani Syaibah) esok pagi. Semua kepala suku menyetujui usulan tersebut.

Keesokan harinya, semua mata tertuju pada pintu gerbang masjid dengan penuh ketegangan. Tiba-tiba, muncullah seorang pemuda tampan dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Pemuda itu adalah Muhammad bin Abdullah.

Seketika itu juga, pelataran Ka’bah bergemuruh oleh helaan napas lega dan teriakan gembira para pemuka Quraisy:

هَذَا الأَمِينُ، رَضِينَا بِهِ، هَذَا مُحَمَّدٌ “Inilah Al-Amin (orang yang tepercaya), kami ridha dengannya, ini adalah Muhammad!”

Sejak usia muda, Rasulullah SAW memang telah mendapatkan tempat paling istimewa di hati masyarakat Makkah karena kejujuran, keluhuran budi, dan tutur katanya yang tak pernah dusta.

4. Solusi Surban: Keadilan yang Merangkul Semua

Setelah mendengar detail pertikaian dari para pemuka suku, Rasulullah SAW tidak langsung mengambil keputusan yang memihak salah satu kabilah. Beliau meminta selembar kain selendang atau surban besar miliknya, lalu membentangkannya di atas tanah.

Dengan tangan mulianya sendiri, Rasulullah SAW mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya tepat di bagian tengah kain tersebut. Beliau kemudian berkata kepada para pemimpin kabilah yang bertikai:

“Hendaklah setiap ketua kabilah memegang ujung-ujung kain ini, lalu angkatlah batu ini bersama-sama!”

[Image of Ilustrasi para pemimpin kabilah Quraisy mengangkat kain berisi Hajar Aswad bersama pemuda Muhammad]

Solusi ini adalah mahakarya diplomasi yang luar biasa. Dengan cara ini, semua kabilah mendapatkan bagian kehormatan yang sama rata untuk mengangkat batu surga tersebut. Rasa ego kelompok mereka terpuaskan oleh keadilan yang inklusif.

Setelah kain tersebut diangkat secara bersama-sama hingga setinggi tempatnya di sudut Ka’bah, Rasulullah SAW kemudian mengambil Hajar Aswad dengan kedua tangan beliau yang mulia dan meletakkannya ke posisi semula dengan presisi. Pertumpahan darah besar pun berhasil dicegah hanya dengan selembar surban dan ketulusan hati.

5. Tuntunan Doa & Bacaan saat Istilam (Menghadap Hajar Aswad)

Kisah di atas mengajarkan kepada kita bahwa Hajar Aswad adalah saksi dari keimanan, kejujuran, dan keluhuran akhlak Rasulullah SAW. Sebagai umatnya, ketika kita melakukan Tawaf dan berada sejajar dengan Hajar Aswad, disunnahkan untuk melakukan Istilam (mengusap, mencium, atau melambaikan tangan kanan ke arahnya jika kondisi sangat padat) sambil membaca doa yang diajarkan oleh sahabat Ibnu Umar RA:

Lafadz Doa Istilam:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ، وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Transliterasi:

Bismillaahi wallahu akbar, allaahumma iimaanan bika, wa tashdiiqan bikitaabika, wa wafaa-an bi’ahdika, wattibaa’an lisunnati nabiyyika Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya:

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, (aku mengusap/berisyarat ini) karena beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji kepada-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad SAW.”

Tadabbur Karakter Mulia Bersama Yaa Latif Tour

Membayangkan peristiwa “Solusi Surban” langsung di depan Ka’bah akan memberikan kedalaman makna yang luar biasa pada ibadah Tawaf Anda. Kami di Yaa Latif Tour & Travel berkomitmen agar perjalanan ibadah Anda sarat akan nilai pendidikan karakter (tarbiyah):

  • Storytelling di Pelataran Ka’bah: Muthawwif kami akan menceritakan kembali kisah-kisah akhlak mulia Rasulullah SAW selama fase Makkah secara langsung saat mendampingi Anda di Masjidil Haram, membantu Anda merenungkan keluhuran budi pekerti beliau.

  • Bimbingan Tawaf yang Khusyuk: Kami melatih jemaah agar saat melakukan istilam ke Hajar Aswad, lisan dan hati tetap fokus mengikrarkan keimanan sesuai doa sunnah di atas, tanpa harus melakukan tindakan berdesakan yang menyakiti jemaah lain.

  • Kenyamanan Akses: Dengan hotel yang strategis, jemaah dapat dengan mudah memilih waktu-waktu yang relatif lebih longgar untuk bisa ber-taqarrub di dekat sudut Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim dengan tenang.

Kesimpulan: Warisan Akhlak untuk Kehidupan Kita

Kebijaksanaan Rasulullah SAW di Hajar Aswad adalah teladan nyata bagi kita hari ini. Beliau mengajarkan bahwa solusi terbaik atas sebuah perselisihan bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana kita bisa merangkul semua pihak demi menjaga persatuan umat.

Mari bersujud langsung di tempat lahirnya keteladanan agung ini. Amankan kursi Anda dalam program Umroh & Ziarah Makkah tahun 2026 bersama bimbingan spiritual tepercaya dari Yaa Latif Tour & Travel.

[Hubungi Konsultan Perjalanan Yaa Latif – Jadwalkan Ibadah Anda Sekarang]

Scroll to Top